Jakarta- Kontroversi perkawinan anak kembali santer setelah belakangan ini beredar kampanye di media sosial agar para orang tua mengawinkan anak perempuannya oleh sebuah Wedding Organizer. Menurut mereka, perkawinan akan memberikan penghidupan yang lebih baik bagi perempuan.

Persoalan tersebut mendapatkan kritikan dari berbagai pihak, termasuk oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU), Nurul Hidayatul Ummah turut menanggapi soal maraknya promosi pernikahan pengantin perempuan di bawah umur tersebut.

“Kalau kita lihat data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tentang Perkawinan Anak pada 2018, memperkirakan terdapat 1.220.900 anak perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun. Mau berapa jumlah anak lagi yang akan dirampas hak-haknya?,” kata Nurul saat ditemui NU Online di ruangannya, Jakarta, Minggu, (14/02).

Nurul mengatakan perkawinan anak akan menyebabkan banyak dampak buruk, diantaranya terampasnya hak pendidikan anak, khususnya anak perempuan.
“Saya bukan lagi menyebut pernikahan dini, itu kan bahasa halusnya, tapi kalau sudah merampas hak pendidikannya itu namanya perkawinan anak, tentu hal tersebut menghambat program wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah, dampak buruknya tentu akan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia Indonesia,” papar Nurul.

Kemudian akan berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi, khususnya anak perempuan memiliki risiko tinggi menghadapi berbagai permasalahan kesehatan reproduksi, karena ketidaksiapan fungsi-fungsi reproduksi secara biologis dan psikologis.

Bahkan, anak perempuan memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap penyakit berbahaya seperti kanker serviks, HIV/AIDS, dan berisiko mengalami osteoporosis, akibat hubungan seksual dini dan kurangnya pengetahuan mengenai kontrasepsi.

“Dan lebih parahnya, perkawinan anak rentan melahirkan dengan risiko kematian bayi itu lebih besar, bayi lahir dalam keadaan prematur, kurang gizi, dan anak berisiko terkena hambatan pertumbuhan atau stunting,” jelasnya

Nurul menambahkan bahwa dalam masalah perkawinan, Islam mendorong agar lebih menjamin kepada suksesnya sebuah perkawinan, kematangan keduanya, sehingga keduanya mampu mangarungi bahtera rumah tangga dan meningkatkan ketakwaan.

“Jadi kalau ada orang yang masih ada anggapan bahwa menikahkan anak dibawah umur agar terhindar dari zina, solusinya bukan mengorbankan anak agar menikah, tapi bisa dilakukan dengan bimbingan dari orang tua, diberikan pendidikan yang lebih layak, misalnya masuk ke pesantren, atau bisa bergabung dengan IPPNU,” ujarnya.

IPPNU mengajak pelajar Indonesia mengimplementasikan ajaran agama yang lebih ramah terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan sesuai dengan perkembangan zaman. (Anty / Firda)