Esti (kedua dari kiri) dan Nurul (kedua dari kanan) saat menghadiri Bincang Bintang IPPNU pada Kongres XVIII IPPNU, Ahad (23/12).

Cirebon – Peran generasi milenial Nahdhatul Ulama di Era Revolusi Industri 4.0 menjadi pembahasan pada acara Live Talkshow yang diselenggarakan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di sela-sela kongres XVIII IPPNU di Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat, Ahad (23/12).
Acara ini menghadirkan dua kandidat Calon Ketua Umum IPPNU periode 2018-2021, Esti Kurniati dan Nurul Hidayatul Ummah.

Esti yang diberikan kesempatan pertama mengungkapkan, IPPNU harus mampu menghadapi era millennial dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal bangsa Indonesia.

“Untuk mengikuti arus globalisasi harus ada ruang untuk tetap mengedepankan budaya bangsa sendiri. Di era teknologi, era milenial, kita sebagai warga negara yang memiliki banyak suku bangsa harus tetap ingat kebudayaan lokal.“ kata Esti.

Sementara Nurul menilai bahwa era milenial harus menjadi perhatian khusus bagi kader-kader IPPNU. Sebab, pemuda Nahdhatul Ulama adalah garda terdepan sebagai agen perubahan.

“Saat ini, zaman sudah memasuki revolusi industri 4.0, semua sudah serba digital. Sebagai Kader terdepan NU, sebagai agen of cange atau agen perubahan, kita perlu menguasai, menyiapkan diri, meningkatkan pengetahuan dan soft kill yang dimiliki untuk menyambut revolusi tersebut,” ujar Nurul.

Keduanya sepakat, IPPNU siap menghadapi kemajuan teknologi yang semakin pesat dan keberadaannya telah masuk ke berbagai aspek kehidupan.

Kongres yang berlangsung hingga 24 Desember 2018 ini mengusung tema “Menuju Milenial Berkeadaban”. Tema itu sebagai representasi  semangat IPPNU yang siap menghadapi percepatan perubahan zaman, sekaligus tetap berpegang teguh pada prinsip NU “Memelihara nilai-nilai lama yang baik, serta mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik”.  (Moezha/Marleni)