Sabtu lalu merupakan peringatan hari R.A Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2018. R.A Kartini merupakan sosok pahlawan perempuan yang memiliki pemikiran revolusioner terhadap pendidikan dan perempuan. R.A Kartini dibesarkan dari kalangan priyayi (Bangsawan Jawa) akan tetapi R.A Kartini memiliki tujuan mencerdaskan perempuan bangsa, baik itu dikalangan priyayi maupun dikalangan rakyat miskin. Pendidikan yang hanya didapatkan oleh kalangan bangsawan dan kaum menengah keatas merupakan bentuk ketidakadilan bagi rakyat indonesia, padahal dalam UUD 1945 pendidikan diarahkan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

Perjuangan R.A Kartini pada masanya membuat dirinya selalu dikenang dikalangan masyarakat dengan ditetapkannya R.A Kartini sebagai pahlawan Nasional, oleh Presiden Sukarno pada Keputusan Presiden RI No. 108 tahun 1964. Begitu banyak perjuangan yang dilakukan oleh R.A Kartini, akan tetapi perjuangannya tidak membuat masyarakat indonesia sadar akan pentingnya pendidikan. Perempuan masa kini masih sangat terobsesi memiliki pasangan yang hanya mengikuti trend terkini, sehingga banyak dari kalangan pelajar harus melakukan aborsi ataupun nikah dini karena melakukan seks bebas. Padahal hal tersebut tidak sesuai dengan norma yang ada dan khususnya perjuangan Kartini.

Provinsi Jawa Timur memiliki angka penikahan di bawah umur yang sangat tinggi, pada tahun 2015 BKKBN Jatim turut prihatin dengan angka yang sangat tinggi untuk dispensasi pernikahan dini (di bawah umur) yaitu mencapai 3.000 pasangan (Media Indonesia 2016). Pernikahan dini didasari beberapa faktor yaitu tradisi, ekonomi dan hamil di luar nikah.

Perempuan adalah seorang ibu bagi anak-anaknya, seorang guru pertama bagi sistem pendidikan keluarga, untuk itulah perempuan harus terus berbenah dari rusaknya moral. Jika seorang perempuan rusak maka hancurlah generasi berikutnya. Salah satu cara untuk membangun kembali generasi bangsa yang baik maka kita harus memperbaiki para perempuan, perempuan harus memiliki kesadaran tinggi jika merekalah yang menentukan berkualitas atau tidaknya generasi bangsa. Menghentikan budaya patriarki maupun tradisi pernikahan anak yang menjamur dibeberapa daerah, memperbaiki ekonomi dan memperbaiki moral atau akhlak pelajar, semua berada pada rumah yang memiliki kunci bernama membaca dan sadar. Marilah kita meneruskan perjuangan Kartini dengan membaca, menulis dan memahami. (Sumriyah)