Selamat hari kartini rekanita…sosok Kartini merupakan tokoh perempuan yang bergerak sebagai pelopor kemajuan pendidikan perempuan  di Indonesia. Jiwa penggerak Kartini di munculkan  oleh realitas sosial perempuan indonesia Saat itu,  dimana  perempuan termarginalkan oleh konsepsi budaya sehingga perempuan mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan, informasi kesehatan dan lain-lain.

Sejak dipingit dan tidak di perbolehkan bersekolah dan tidak boleh keluar rumah, semangat belajar Kartini hanya tersalurkan pada bacaan buku-buku Belanda yang dikirim oleh sang kakak dan sang moedertje. Sebelum genap 19 tahun kartini telah selesai membaca Karya  sastra feminis dan anti perang, seperti Goekoop de-Jong Van Beek, Berta Von Suttner, Van Eeden, hinggaMax Havelaar karya Multatuli yang menceritakan ketidakadilan dari cultuurstelsel/ tanam paksa kopi. Semua buku berbahasa Belanda ini memperkaya perspektif Kartini yang diam-diam mulai ingin memperjuangkan nasib kaum perempuan pribumi untuk mendapatkan hak yang setara dengan lelaki, baik dalam pendidikan, berpendapat, hingga pengambilan keputusan.

Perlakuan diskriminatif kerap kali diterima perempuan Indonesia, baik dalam kehidupan sosial maupun dunia profesional. Oleh karena itu, momen Hari Kartini sudah seharusnya dijadikan sebagai pengingat bagi para perempuan Indonesia untuk memperjuangkan hak-haknya yang belum terpenuhi seperti hak  dalam memperoleh pendidikan bagi perempuan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Mandat untuk memenuhi pendidikan bagi seluruh rakyat tidak terkecuali perempuan dan kelompok marjinal telah termaktub dalam UUD 45 secara khusus telah dimuat dalam khususnya pasal 28 c, ayat 1 dan Pasal 31, ayat 1-5, dan kemudian disusul dengan berbagai undang-undang dan komitmen Indonesia dalam kancah internasional. Undang-undang dan instrumen yang dimaksud antara lain UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak, Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan, Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Konvensi Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, yang telah diratifikasi melalui UU No 11 tahun 2005, Education for All (pendidikan untuk semua), Confintea, Sustainability Develomment Goals (SDGs) dan lain-lain.

Dalam data BPS, Kemenppa dan kemendikbud 2016 tercatat  2, 07% atau 3,4 juta penduduk masih buta huruf. 1, 157.703 laki-laki 2,258.990 perempuan buta huruf. Sementara jumlah perempuan yang menikah  di bawah usia 18 tahun berjumlah 94,72 % tidak bersekolah lagi.

Selain Kartini, banyak tokoh perempuan yang memperjuangkan pendidikan untuk perempuan seperti Nyai Khoiriyah Hasyim, di mana selama hidup di Makkah mendampingi suaminya. Nyai Khoiriyah menggagas sekolah untuk  pendidikan perempuan, pada tahun 1942 Nyai Khoiriyah mendirikan  Sebuah madrasah khusus perempuan pertama di Tanah Suci. Madrasah tersebut bernama Madrasah Banat, yang mana madrasah tersebut menjadi bagian dari Madrasah Darul Ulum. Hal ini tentu menjadi prestasi tersendiri bagi umat Islam asal Indonesia yang mampu membuka madrasah perempuan pertama di Makkah. Kiprah Nyai khoiriyah bukan hanya memperjuangkan pendidikan di indonesia saja tetapi telah mewarnai pendidikan perempuan di dunia dimana negara Makkah merupakan sentral pendidikan Agam Islam di dunia.

Sampai akhir hayat Kartini dan Nyai Khoiriyah terus menerus memperjuangkan perempuan untuk meendapatkan hak untuk memperoleh pendidikan dan mencerdaskan perempuan. Melihat data banyaknya angka ketertinggalan pendidikan perempuan Indonesia, maka Perjuangan kartini  dan Nyai Khoiriyah dalam membuat sekolah perempuan masih harus di perjuangkan secara bersama. (D-D)