Hari Perempuan internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret merupakan ajang untuk menyuarakan hak-hak perempuan demi impian kesetaraan gender. Perempuan yang juga merupakan mahluk ciptaan Allah juga memiliki potensi yang besar dan luar biasa jika ada tempat untuk mewadahi dan ruang untuk berekspresi. Karena pada hakikatnya, setiap ciptaan Allah memiliki kelebihan yang jarang diketahui.

Hari Kamis, 8 Maret 2018 telah diadakan sebuah acara diskusi yang penuh inspirasi. Acara yang mengambil tema “Suara Remaja Mencegah Perkawinan Anak” merupakan bentuk realisasi untuk memperingati Hari Perempuan Internasional. Acara ini dihadiri dari berbagai komunitas, seperti UNICEF, Kedutaan Kerajaan Belanda di Indonesia, Jaringan KUPI, Jaringan AKSI, Girls Not Brides dan Komunitas Jurnalis.

Menikahkan anak di usianya yang masih belum sepatutnya untuk menikah seperti di usia kurang dari 18 tahun merupakan sebuah kesalahan yang fatal untuk orangtua anak yang akan berdampak kondisi fisik dan mental anak. Seorang anak yang dijodohkan atau memang sudah kesandung hamil di luar nikah sebelum usia dewasa ternyata mempunyai banyak resiko yang akan berdampak dalam jangka waktu yang lama. Anak akan mempunyai urgensi terhadap tanggungjawab yang baru dan seolah-olah telah terampas haknya sebagai seorang anak. Anak yang seharusnya memiliki hak untuk hidup, tumbuh kembang, berpartisipasi dan mendapatkan perlindungan merupakan hak utama anak. Setelah menikah, anak akan mendapatkan permasalahan baru padahal usianya yang masih muda belum mampu menjamah pemikiran orang dewasa yang memang sudah waktunya untuk menikah.

Acara yang dimulai dari pukul 9 pagi sampai 5 sore ini bukanlah suatu kegiatan yang membosankan. Ada berbagai sambutan yang memeriahkan acara ini, seperti sambutan Princess Mabel Van Oranje dan Menteri Komnas Perempuan. Antusias dari para peserta acara yang kebanyakan adalah para siswa SMA sangat bisa dirasakan getarannya. Meskipun masih SMA namun mereka telah siap menjadi pelopor untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan pemerintahan untuk ikut serta mencegah pernikahan anak.

Selain itu, acara yang sangat fenomenal ini juga ditutup dengan penampilan peserta kegiatan untuk ikut serta berperan aktif mengkampanyekan untuk tidak nikah di usia anak-anak. Peserta acara mempresentasikan hasil diskusi mereka dengan membuat gambar karikatur ala kadarnya dan memberikan pengertian bahwa semua pihak wajib untuk ikut serta memberdayakan anak untuk tidak menikahkannya di usia muda demi terciptanya generasi bangsa yang lebih baik dan mampu menjadikan Indonesia lebih hebat karena peran seorang anak muda masa kini akan berdampak untuk masa depannya. (Annida Shf)