Hari lahir (Harlah) merupakan suatu momen yang sangat berarti untuk setiap individu, baik itu Harlah untuk dirinya sendiri, teman dekat, sahabat hingga organisasi yang ditekuni dan diperjuangkannya. Begitu juga dengan momen Harlah IPPNU yang ke-63 yang telah diramaikan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh berbagai komisariat, ranting, anak cabang, cabang, wilayah hingga pimpinan pusat IPPNU, seperti mengadakan lomba membuat dan menghias tumpeng, mengadakan lomba menulis tentang perempuan, mengadakan sholawat bersama hingga mengadakan diskusi dengan tujuan untuk mengingatkan kembali tentang sejatinya sesuatu yang terlahir kembali adalah untuk direnungkan kembali apa yang telah diperbuat dan apa yang akan diperbuat. Agar kedepannya, dengan adanya evaluasi ini akan menjadikan sebuah tubuh organisasi tetap relevan untuk ditekuni dengan mengikuti peradaban zaman.

Malam ini, PP IPPNU telah menyelenggarakan sebuah acara yang dimaksudkan untuk memperingati Harlah IPPNU yang ke-63 di Masjid An Nahdlah PBNU. Acara ini terlihat sederhana tapi kesan yang didapatkan sangat luar biasa karena dihadiri oleh beberapa alumni IPPNU dan mantan Ketua PP IPPNU dari masa khidmat tahun 2003 s.d. 2013. Selain tamu undangan, acara ini juga dihadiri oleh rekanita pengurus dan anggota IPPNU se-Jabodetabek. Antusias dari peserta acara Harlah kali ini sangat mengagumkan, acara yang seharusnya baru dimulai pada pukul 19:30WIB namun dari setelah Jamaah Ashar sudah banyak peserta acara yang datang. Hal ini menyebutkan bahwa Rekanita IPPNU selalu siap dan semangat untuk belajar, berjuang dan bertakwa kapanpun dan dimanapun. Acara yang dibalut dalam kegiatan pembacaan manakib serentak se-Indonesia ini adalah sebuah ungkapan syair-syair kerinduan pelajar puteri.

Selain itu, momen Harlah merupakan sebuah ajang untuk bermuhasabah. Menurut Sekjen PBNU, Bapak Dr. Helmy Faishal Zaini mengatakan, bahwa 63 tahun adalah usia yang matang untuk menghadapi tantangan zaman dengan mampu meletakan diri dalam satu haluan sebagai bentuk kekhidmatan. Karena pada hari ini, sudah ada 3 tantangan besar yang harus siap untuk dilawan oleh kader IPNU dan IPPNU. Seperti, tren radikalisme dan terorisme global yang sudah masuk diperkampungan Indonesia, dengan hasil riset yang membuktikan bahwa 4 persen dari penduduk Indonesia yang ternyata adalah pelajar sudah terpapar oleh radikalisme. Tantangan yang kedua adalah era milenial atau zaman now yang sudah merebaknya sosial media dan membuat perubahan secara drastis dengan memberikan pola baru untuk beraktivitas yang lebih instan, cepat dan memudahkan segala aktivitas. Berdasarkan survei, 52 persen penduduk di Indonesia sudah menggunakan handphone untuk bersosial media. Tantangan yang ketiga adalah era ekonomi yang masih dalam kondisi saling timpang tindih, dikabarkan menurut hasil survei bahwa ternyata di Indonesia ada satu perusahaan yang menguasai tiga juta hektar lahan.

Berdasarkan ketiga tantangan besar tadi, seharusnya melalui momen Harlah ini, IPPNU mampu mengambil posisi untuk berpartisipasi dan menjadi pioneer untuk ikut serta melawan radikalisme dan terorisme, mengikuti tren milenial sebagai pemain aktif di media sosial dengan memberikan edukasi serta ikut berperan dalam memberdayakan ekonomi masyarakat di Indonesia. Karena kita harus menjadi generasi yang unggul, cerdas dan bermanfaat untuk orang banyak. Semoga langkah juang kita untuk mengkhidmatkan diri dalam berorganisasi di IPPNU menjadi ladang amal sholeh untuk kita di akhirat. Aamiin.