Insonesia adalah sepenggal cerita tentang kehidupan kurang lebih 250 juta jiwa manusia. Wilayahnya yang membentang dari Sabang sampai Merauke dengan luas 5.193.250 Km. Dihuni oleh nasyarakat yang beragam; baik suku, bahasa, budaya, ras maupun agama. Indonesia bukan hanya milik satu golongan ataupun satu kepentingan, akan tetapi Indonesia milik semua. Tujuh puluh dua tahun Indonesia merdeka, terlapas dari belenggu penjajahan Imperealisme Negara asing. Terlepas dari pengaruh-Negara yang ingin mempengaruhi. Tujuh puluh dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, ada jutaan bahkan miliaran orang yang rela mati untuk harga sebuah kemerdekaan. Ada jutaan darah yang mengalir dengan terarah untuk sebuah kata merdeka.

Selama tujuh puluh dua tahun pula, para pendahulu kita menjaga bhineka; merawat dengan keberagamaan bukan dengan aksi tolak dan saling serang. Sebelum tujuh puluh dua tahun yang lalu, saat Indonesia masih bernamakan nusantara, pulau-pulau terpisah dengan nama-nama kerajaan. Masa dimana pengetahuan masih menjadi barang langka. Masa dimana pemikiran masih sebatas apa yang diihat. Tujuh puluh dua tahun yang lalu saat kemerdekaan ingin menjadi kenyataan. Semua bersatu atas satu nama. Perjuangan Kemerdekaan dan Kebhinekaan.

Zaman berubah sudah, saat kemerdekaan didapatkan. Kebhinekaan digemakan; semua menyatu atas satu ikatan yakni Bhineka Tunggal Ika, persoalan hari ini bukan tentang mencari nama untuk Negara atau mencari nama untuk semboyang kita. Persoalan hari ini adalah bagaimana menjaga persatuan agar tetap satu, menjaga semboyang kita agar tetap pancasila. Agar cita-cita Bung Karno tetap ada, bahwa “kita mendirikan satu Negara bukan untuk satu orang, bukan untuk satu golongan akan tetapi untuk semua”.

Dengan jumlah remaja yang ada sekitar 62,4 Juta orang (Data BPS), tentunya memiliki potensi yang baik untuk bersama-sama merawat kebhinekaan dengan karya yang tertata tapi bukan sekedar wacana, memandang perbedaan sebagai berkah dari keberagama, serta dengan menyebarkan semangat keberagamana. Melawan agenda provokasi SARA dengan gerakan perdamaian yang nyata . Jangan sampai perbedaan kini menjadi pembatas diantara sesama, memisahkan rasa suka cinta yang meskinya tetap ada. Seharusnya perbedaan bukan untuk diperolokan, namun untuk saling melengkapi dengan sesama.karena kita terlahir dari falsafah yang sama.

Masalah persatuan menjadi agenda untuk menyatukan hati yang kini mulai beda, agenda tentang persatuan bangsa bukan hanya tugas Mentri Pertahanan semata, namun menjadi agenda bersama. Terlebih untuk para remaja kini jumlahnya paling mendominasi; remaja yang tergabung dalam naungan jamiyah Nahdlatu Ulama. Tantangan hari ini bukan hanya tentang kaderisasi yang harus semakin massif, namun tentang mnyamakan persepsi agar tetap NKRI dan menjaga agar tidak terkena radikalisasi. Menjadi penjembatan kedamaian sesama. karena kehadiran ikatan kita  bukan untuk menjadi bagian elit berpendidikan dimasyarakat, namun untuk menjadi manusia terdidik yang dekat dengan masyarakat.

Melalui pengabdian yang tiada henti, menebar semangat perdamaian pada sesama. Dimulai dari langka kecil yang penuh arti, semoga mencapai cita-cita perdamaian NKRI.

 

Siti Fatonah, Ketua PC IPPNU Kota Bandung