Dok.PP.IPPNU

Pernahkan kita berfikir, apakah jika dulu bangsa ini tidak direbut dari tangan-tangan keji para penjajah laknatullah, kita masih bisa menikmati hidup seperti sekarang ini?. Secangkir kopi yang terhidang diatas meja hari ini, akankan sama nikmatnya jika kita menyesapnya diatas tanah yang masih terjajah dan kebebasan yang terbelenggu? Tentu tidak. Maka kemerdekaan bangsa sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Rahmat Tuhan yang sangat Agung, yang harus kita syukuri bersama. Rahmat ini sudah seyogyanya kita jaga dan kita rawat bersama, meski merawatnya tentu tidak semudah sekedar menghabiskan secangkir kopi diatas tanah yang merdeka ini.

Merawat kemerdekaan dengan mempertahankan keutuhan NKRI adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar bagi seluruh elemen bangsa. Mengingat Negara ini direbut melalui perjuangan panjang, peperangan, pemberontakan dan upaya-upaya diplomasi pelik yang dilakukan oleh para pendiri Bangsa. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan “bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya”. 17 agustus menjadi angka kramat sebab sejarah mengisahkan betapa Negara ini didirikan dengan tetesan darah perjuangan para pahlawan demi subuah kemerdekaan dan merah-putih yang sah dikibarkan. Hal ini terekam erat dalam teks Undang-Undang Dasar 1945 pada alenia pembuka “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Hal ini menjadi main reminder bagi kita selaku generasi bangsa, bahwa apa yang kita nikmati hari ini sebagai Negara kesatuan yang berkeadilan dan berkeberadaban adalah Bangsa di tebus oleh jerih payah, darah, jiwa, harta dan raga para pendahulu.

Dalam proses menuju kemerdekaan, keterlibatan islam melalui peran ulama dan agamawan baik secara individu maupun kelompok terlah ikut serta menorehkan tinta sejarah perjuangan panjang membela Tanah pertiwi. Tak sedikit jumlah ulama dan santri yang gugur dimedan perang melawan kekejian kolonial belanda demi bangsa yang merdeka dan berkibarnya sang saka.
Meski kemudian peran sentral etintas pesantren pada masa revolusi kemerdekaan termarginalkan dalam penulisan sejarah ‘resmi’ Negara. Namun sejarah tak pernah berdusta meski berkali-kali coba didustakan. Terbentuknya tentara hizbullah sampai tercetusnya resolusi jihad oleh sang hadrotussaikh Hasyim Asy’ari demi mencapai kemerdekaan menjadikan dasar adagium bahwa “Agama dan Negara adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan” apalagi dibenturkan.
Mendikotomikan Agama dan Negara hanya akan menciderai sejarah dan mengingkari perjuangan para pahlawan yang sebagian dari mereka berangkat dari sepirit keagamaan yang kuat dan mengikat.

Tak heran jika munculnya gerakan Islam radikal secara masiv sejak hampir 2 dekade terakhir ini menjadi keresahan tersendiri, mengingat paham ber-islam jenis ini seringkali membenturkan agama dan Negara dalam bungkus kampanye khilafah dengan menolak keras pancasila yang merupakan idoelogi final dan tunggal bangsa Indonesia. Faham-faham radikal ini kemudian berkembang secara pesat dengan cara berafiliasi kepada kelompok-kelompok islam yang tidak berhaluan terhadap paham ahlussnnah waljamaah. Hal ini terbukti, mereka yang menyatakan Indonesia sebagai Negara toghut karna tidak menjadikan syari’at islam sebagai dasar Negara adalah mereka yang juga secara bersamaan memerangi amaliyah ahlussunnah waljamaah.

Kita tentunya sepakat untuk tidak membiarkan ideologi pancasila diporak porandakan oleh segelintir orang yang ambisius, hegemonis, dan melakukan politisasi agama dengan menghalalkan semua cara termasuk cara-cara kekerasan yang tidak berprikemanusiaan, terorisme dan gerakan-gerakan radikal lainya. Kita tentunya tidak boleh menutup mata bahwa Indonesia telah bertubi-tubi diserang dengan rentetan peristiwa terror baik berupa bom, pembunuhan dan kekerasan lainya atas nama agama yang lalu semua itu mereka letak-sandarkan sebagai bentuk jihad melawan pemerintah.

Gerakan ini tentu bisa saja menjelma menjadi bentuk penjajahan baru ditengan tantangan mengisi kemerdekan yang semakin kompleks. Dimana Bangsa kita yang telah bersatu dalam bingkai kemerdekaan bukan tidak mungkin akan menjadi tercerai-berai karna upaya provokativ gerakan radikal yang terus merongrong. Parahnya, penjajahan ini datang bukan dari luar kita, melainkan tumbuh di dalam tubuh dikandungan ibu pertiwi sendiri. Jika sudah bergitu, maka siapa yang akan di serang, siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan melawan?.

Beruntung pada ahirnya pemerintah didorong oleh berbagai elemen masyarakat telah menunjukan sikap tegas dan responsip terhadap kelompok dan gerakan apapun yang menentang idoelogi bangsa, merongrong persatuan Negara dan menyebarkan doktrin propokatif pemecah belah kesatuan bangsa dengan diterbitkanya Perppu 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Kita semua sadar dan paham betapa mengerikanya jika faham islam radikal ini terus dibiarkan berkembang dan tumbuh subur di Negara Kesatuan RI kita tercintai ini. Terlebih, dewasa ini mereka; para promotor penggerak radikalisme agama tengah gencar menyasar generasi muda sebagai sasaran doktrin dan rekrutment gerakan mereka. Ini berarti generasi kita ada dalam bahaya.

Menyikapi hal ini, maka penguatan ideologi ber-NKRI melalui perspektif sejarah dan pendekatan agama kepada generasi muda menjadi sesuatu yang penting dipertimbangakan sebagai salah satu upaya deradikalisasi atau melawan radikalime atas nama agama. Agama akan menjadi penguat spiritual encouragement dan refleksi sejarah akan menguatkan sense of belonging terhadap NKRI.

Nahdatul Ulama yang dalam hal ini merupakan organisasi agama dengan ideologi Ahlussunnah Waljama’ah berbasis nasionalisme telah mengukuhkan berkomitment untuk turut merawat dan menjaga keutuhan NKRI sebagai bentuk tanggung jawab dan pengejawentahan nyata dari slogan “hubbul wathon minal iman” yang dicetuskan oleh Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sang Pendiri Nahdlatul ulama yang merupakan promotor dicetuskanya resolusi jihad 22 oktober 1945. Dan dibarisan pelajar, ada sayap IPNU dan IPPNU yang terus berkibar, membentang dicakrawala, turut serta mengisi kemerdekaan dengan terus berkomitment mengkawal pelajar Indonesa beriman dan merdeka dari segala bentuk doktrin radikal.

Ainun Ni’mah

Bendahara Umum  PP.IPPNU