Jakarta, IPPNU Online

Seketaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini menyampaikan tiga hal penting bagi IPPNU dalam sambutannya pada puncak Harlah Ke-62 tahun Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Gedung PBNU Lantai 8, Sabtu, (11/3/17).

Ia berpesan agar IPPNU untuk terus setia mengawal Pancasila dan NKRI serta melakukan upaya-upaya pendekatan kualitas berkeluarga pada pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Menurutnya, hal pertama yang harus dilakukan IPPNU adalah dengan melakukan konsolidasi organisasi.

“Begitu banyak sekolah-sekolah yang belum berlabel IPPNU, sementara pengaruh radikalisme, narkoba, kekerasan dan juga deras informasi yang luar biasa bebasnya, tidak dilengkapi dengan literasi yang memadai, maka dalam konteks membangun konsolidasi organisasi ini diperlukan terobosan-terobosan, agar IPPNU ini jumlahnya terus bertambah.”

Terkait kaderisasi dan program, ia meminta IPPNU hendaknya segera melakukan langkah-langkah apa yang disebut dengan kehadiran di tengah-tengah masyarakat.

“Tentu yang kita harapkan adalah kerja nyata dalam konteks membangun solidaritas sosial kemanusiaan yang sekarang ini tentu membutuhkan uluran tangan dari kita semua,” jelasnya.

Pesan kedua yang ia sampaikan terkait identitas yang melekat pada IPPNU adalah pelajar. Ia menyampaikan tentang pendidikan.

“Catatan paling penting dari lembaga PISA (Programme for International Student Assessment) yang sudah melakukan riset di 72 Negara, dan hasilnya adalah pada tahun 2012, Indonesia menduduki posisi 71, tahun 2015 Indonesia sudah meningkat menempati di posisi 64, dan di tahun 2013 mungkin sudah bergeser pada peringkat 61/62, dan survei ini diukur dengan tiga pendekatan yaitu matematika, sains, dan minat baca, dari seribu pelajar yang disurvei hanya ditemukan satu orang saja yang menduduki minat baca.”

Menurutnya, indeks membaca pelajar Indonesia masih pada posisi 0,001 dengan demikian indikator pendidikan di Indonesia masih ketinggalan, karena di negara-negara maju indeks membacanya itu minimal sudah 0,046, sekitar 460 orang yang benar-benar minat baca.

Yang terakhir ia menyampaikan bahwa saat ini Indonesia menghadapi situasi yang sangat pelik, dengan masuknya paham-paham transnasional, dan dunia sosmed yang sangat mainstream.

Menurutnya, IPPNU harus mengambil peran untuk pemberdayaan ekonomi di era sosmed yang sudah menjadi trend bisnis.

“Sesuai hasil Muktamar Ke-33 NU di Jombang, yang pertama mengokohkan, meneguhkan, melaksanakan Islam Ahlussunah wal Jama’ah, ini juga harus menjadi spirit IPPNU,” imbuhnya.