Catatan Tahunan (Catahu) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) memuat kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh lembaga-lembaga pengada layanan selama satu tahun kebelakang.

Angka kekerasan terhadap perempuan (KTP) sejak 2010 terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan angka yang sangat tinggi terjadi antara tahun 2011 sampai tahun 2012 yang mencapai 35%. Untuk tahun 2015 jumlah kasus meningkat sebesar 9% dari tahun 2014.

Tahun 2017 Komnas Perempuan mengirimkan 674 lembar formulir kepada lembaga mitra Komnas Perempuan di seluruh Indonesia dengan tingkat respon pengembalian mencapai 34%, yaitu 233 formulir, sementara di tahun 2016 sebanyak 780 lembar formulir dan tahun 2015bsebanyak 664 formulir. Jumlah kasus KTP 2016 sebanyak 259.150 sebagian besar bersumber dari data kasus atau perkara yang ditangani oleh PA.  Dengan demikian data ini dihimpun dari 3 sumber yakni :

  1. Dari pengadilan Agama atau Badan Peradilan Agama (PA-BADILAG) sejumlah 245.548 Kasus
  2. Dari lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sejumlah 13.602 Kasus
  3. Dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR), satu unit yang sengaja dibentuk oleh Komnas Perempuan untuk menerima pengaduan korban yang datang langsung ke Komnas Perempuan dan Dari Divisi pemantauan yang mengelola pengaduan yang masuk lewat surat dan surat elektronik.

Berdasarkan data-data yang terkumpul tersebut jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol sama seperti tahun sebelumnya adalah KDRT/RP yang mencapai angka 75% (10.205). Posisi kedua KTP di ranah komunitas dengan presentase 22%(3.092) dan terakhiradalah KTP diranah Negara dengan presentase 3% (305). Pada ranah KDRT/RP kekerasan yang paling menonjol adalah kekerasan fisik 4.281 kasus (42%), menempati peringkat pertama disusul kekekerasan seksual kasus 3.495 (34%), psikis 1.451 kasus (14%) dan ekonomi 978 kasus (10%).

Kekerasan diranah komunitas mencapai angka 3.092 kasus (22%) dimana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.290 kasus (74%) didikuti kekerasan fisik 490 Kasus (16%) dan kekerasan lain dibawah angka 10% yatiu kekerasan psikis 83 kasus (3%) buruh migran 90 Kasus (3%) dan Trafiking 139 Kasus (4%).

Di ranah (yang menjadi tanggung jawab) Negara, kasus penggusuran yang dilaporkan dan atau dipantau adalah Bukit Duri, Kampung Pulo, Bongkaran Tanah Abang, Cakung Cilincing di Jakarta dan Konflik SDA untuk pembangunan semen di pegungungan Kendeng.

Untuk kekerasan di ranah rumah tangga atau relasi personal. Kekerasan terhadap istri (KTI) menempati peringkat pertama 5.784 Kasus (56%), disusul kekerasan dalam pacaran (2.171) kasus (21%), kekerasan terhadap anak perempuan 1.799 kasus (17%) dan sisanya kekerasan mantan suami, kekerasan mantan pacar, serta kekerasan terhadap pekerja rumah tangga. Masih diranah relasi personal, tahun ini catahu bisa menampilkan data perkosaan dalam perkawinan (marital rape) sebanyak 135 kasus. Perkosaan dalam perkawinan adalah hal serius dan masih belum banyak dikenali walau sudah memiliki payung hukum (pasal 8) UU PKDRT). Catahu tahun ini mengungkapkan bahwa pelaku kekerasan seksual di ranah personal tertinggi adalah pacar. Relasi personal pacaran dalam pengamatan Komnas Perempuan adalah kasus yang paling sulit menemui akses keadilan karena minimnya payung hukum dan perlindungan untuk kasus-kasus tersebut.

 

Sumber : CATAHU KOMNAS PEREMPUAN TAHUN 2016