Pendahuluan : Salah Kaprah Membaca Sejarah

Kemunculan Istilah ahlussunnah waljama’ah dalam sejarah Islam seringkali dikaitkan dengan gerakan politik yang dialami oleh pemerintahan (Kekhalifahan) Islam pada abad Hijriyah. Terutama pada masa fitnah umat Islam pertama antara Khalifah keempat awal Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sofyan yang waktu itu menjabat sebagai Gubenur Syam (sekarang menjadi Negara Suriah, Palestina, Lebanon dan Jordania). Dimana-mana, terutama di organisasi-organisasi pergerakan istilah ahlussunnah waljama’ah dijelaskan sebagai gerakan politik yang merespon kondisi politik dan ideologi waktu itu. Menurutnya, Ia lahir dari sebuah perseteruan antara dua tokoh yang saling tidak puas dengan kekuasaan yang dipegangnya, sehingga terjadilah pertempuran antar umat Islam dengan umat Islam lain. Seperti perang Jamal antara Khalifah Ali dengan Sayyidah ‘Aisyah; perang Shiffin, perang khalifah Ali menghadapi Gubenur Mu’awiyah; perang Nahrawan, perang antara khalifah Ali dengan kelompok yang menyatakan keluar dari barisan Khalifah dan Mu’awiyah yang kemudian menamakan dirinya sebagai Khawarij. Dari peperangan inilah lahir golongan-golongan atau firqah-firqah Islam yang pada gilirannya membentuk Islam dalam sebuah kelompok-kelompok yang saling mengklaim kebenarannya. Diantaranya yang dianggap firqah lahir di awal abad Hijriyah hanya dua, yakni Sunni sebagai golongan yang patuh pada khulafaurrasyiddin dan Syi’ah sebagai golongan yang hanya mengakui kepemimpinan Sayyidinah Ali bin Abu Thalib. Dalam perjalanannya kemudian berkembang beberapa kelompok yang dikembang sesuai dengan pemikirannya, diantaranya Khawarij, Qadariyah, Jabariyah, Qaramithah, dan lain-lain.

Dari sinilah kemudian seolah-olah terbayangkan dalam pikiran muslim awam bahwa ahlussunnah waljama’ah kelahirannya tidak lepas dari peristiwa politik, yakni perebutan kekuasaan (wilayah Islam yang mewarisi kejayaan Byzantium Romawi dan Persia Sasania) dan sumberdaya (simbolik, ekonomi, sosial dan intelektual dalam tradisi Arab yang berkembang pada zaman itu). Cara berpikir demikian ini didukung dengan kondisi sejarah Islam selanjutnya di zaman Kekaisaran dawlah Abbasiyah, yakni pada saat al-Makmun menjadi Khalifah. Dimana al-Makmun memaksakan semua umat Islam beragama harus mengikuti cara pandang Rasionalisme ala Yunani yang dikembangkan oleh kelompok Mu’tazilah. Bagi ulama’ atau jama’ah Islam yang tidak mengikuti pemikiran mereka akan dibawa ke mahkamah Inkuisisi untuk disiksa dan dipaksa mengakui keunggulan Akal dari pada wahyu Tuhan (al-Qur’an harus dikatakan Makhluk bukan firman Tuhan yang Qadim). Bagi yang menerima maka akan aman dan mendapatkan pengakuan sebagai warga Negara di dawlah Abbasiyah, dan bagi yang membangkang akan dijebloskan ke dalam penjara elit di Baghdad.

Cara berpikir tersebut dilanjutkan dengan munculnya sosok ulama yang cerdas dan berwawasan luas, Abu Hasan al-Asy’ari yang membangkang terhadap gurunya sendiri (Wasil bin Atho’) yang mengembangkan pemikiran Rasionalisme Mu’tazilah dan merupakan sosok profesor Mu’tazilah di zamannya. Bagi al-Asy’ari cara berfikir ala Mu’tazilah salah dan tidak sesuai dengan ajaran Islam dalam Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, dengan berbekal keahliannya dan kajiannya terhadap para ulama yang menyebar di seluruh dunia Islam Ia mengembangkan pemikirannya sendiri yang keluar dari pemikiran Mu’tazilah. Ia mendirikan gagasan yang sama sekali berbeda dengan Mu’tazilah, alias keluar dari ajaran Wasil bin Atho’ dan membangun madzhabnya yang dikenal dengan Asy’ariyah. Madzhab Asy’ariyah kemudian dikembangkan oleh murid-muridnya dan beberapa ulama, diantaranya Abu Mansur al-Maturidzi yang kemudian pemikirannya dikenal sebagai Madzhab Maturidziyah. Dua pemikiran inilah yang kemudian berkembang luas ke seluruh dunia Islam, terutama di halaqah-halaqah Kutab dan Majelis-Majelis Ilmu (bentuk lain dari Universitas di zaman modern).

Semua penjelasan di atas benar, tidak ada yang salah. Kronologi sejarah politik Islam memang demikian. Akan tetapi disini muncul kesalahan, atau bisa juga dibilang kesesatan berpikir. Dimana memposisikan ahlussunnah waljama’ah sebagai firqah dan kelahirannya dari sebuah konflik internal umat Islam. Artinya, jika kelahiran ahlussunnah waljama’ah dipandang melalui perspektif konflik (salah satu dari tiga perspektif sosiologi) akan menjadikan posisi Islam tidak ada bedanya dengan agama Nasrani yang mana Injil terkodifikasikan melalui konflik dan perseteruan, hingga menimbulkan permusuhan yang tidak ada titik temunya. Sebelum adanya Islam agama Nasrani telah berdebat dan berperang hingga kelelahan dan tidak pernah didamaikan.[1]

Meminjam istilah Pierre Bourdieu, terjadi Hexis dalam sejarah peradaban Islam. Yaitu sejarah yang cara pandangnya salah namun seolah benar dan menjadi pendapat publik secara populer. Saking seringnya sejarah Ahlussunnah waljama’ah yang dibenturkan dengan konflik umat Islam disebarkan kepada masyarakat melalui buku dan pelatihan maka masyarakat awam semakin yakin dan membenarkan bahwa perspektif itulah yang benar. Padahal jika diteliti sangat menjerumuskan umat Islam dalam kesalahan pemahaman tentang Ahlussunnah waljama’ah. Buku-buku Pendidikan Aswaja yang diterbitkan oleh PW LP. Ma’arif NU Jawa Timur menerangkan sejarah Ahlussunnah waljama’ah juga dengan cara berangkat dari konflik Sayyidinah Ali dan Mu’awiyah, sehingga seolah-olah Ahlussunnah waljama’ah lahir dari konflik.

Selanjutnya, jika tidak melalui peristiwa sejarah dan kondisi politik, lalu dari manakah kita akan membaca kelahiran ahlussunnah waljama’ah? Padahal kedua hal itulah yang jelas bersinggungan langsung dengan kondisi umat Islam (sesuai dengan perspektif Historis dan Hermeneutik ala ilmuwan Barat) dan sering digunakan sebagai analisis. Menurut hemat kami, tentunya saja melalui perspektif Agama itu sendiri secara murni (kaffah) tanpa harus dikembangkan dengan perspektif lainnya dan cara inilah yang harus dibangun dalam pikiran Muslim.

Memahami Hakekat Agama

Sebelum berpikir dengan menggunakan perspektif Agama hendaknya kita harus mengerti dulu apa yang dimaksud dengan Agama.

Agama bukanlah suatu kepercayaan atau pendapat sebagaimana lazimnya didefinisikan oleh sarjana Barat dan dilanjutkan ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia.[2] Jika agama diartikan sebagai kepercayaan, maka agama adalah produk budaya dan bisa dibuat dan juga diciptakan oleh manusia. Sehingga agama itu bisa banyak dan bermacam-macam, sesuai dengan konteks historis maupun konteks geografis manusia tumbuh dan berperadaban. Tidak salah jika kemudian Kalr Marx, sosok ilmuwan Yahudi Jerman (pendiri madzhab Marxisme) menyebut agama sebagai salah satu dari tujuh unsur budaya (selain seni, bahasa, dll). Agama disebut sebagai budaya yang mana ia lahir dari pergulatan manusia dalam kebingungannya mencari ketentraman dan ketenangan. Menurutnya, agama tidak lahir dari ruang kosong, ia ada karena manusia berpikir dan menciptakan peradabannya untuk meligitimasi masing-masing pemikirannya yang dinyakini (kira-kira) benar. Dengan kata lain, tanpa agama pun manusia bisa hidup dan melangsungkan peradaban dengan unsur budaya yang lainnya. Memandang agama sebagai unsur budaya sekilas sederhana, namun implikasinya sangat signifikan terhadap kehidupan hingga melahirkan pemikiran atheism yang anti Tuhan dan pemikiran Eksistensialis yang menganggap pusat hidup adalah Pikiran manusia (menurut kami, hawa nafsunya). Dan masih banyak lagi aliran filsafat yang lahir dari gagasan agama sebagai unsur budaya.

Sejatinya, dan dalam pengertian yang diajarkan oleh peradaban (nabi) manusia-manusia sebelumnya Agama adalah Cahaya atau Nur Muhammad.[3] Nur inilah yang diciptakan dan lahir langsung dari sisi Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi atas selain-Nya. Ia diciptakan untuk pertama kalinya dalam alam semesta sebelum alam lainnya diciptakan. Lalu semua kehidupan bisa lahir dan bisa diwujudkan dalam bentuknya yang sempurna. Dan pada gilirannya semua Makhluk dan manusia (Adam) diciptakan.[4]

Pada diri Adam itulah Nur Muhammad disemayamkan dalam Qalbunya (bukan hati secara biologis) berupa ruhani yang bersih dan suci. Karena adanya Nur tersebut maka Adam mendapatkan sebutan ‘alaihissalam dan diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Ketika Adam mendapatkan Nur Muhammad itu maka dalam diri Adam telah bersemayam Ruh Tuhan yang harus diikuti dan lebih tinggi dari lainnya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan semua makhluk yang lebih lama hidupnya sekalipun untuk bersujud kepada Adam, yakni Malaikat dan Jin. Sujud disini sujud dalam arti yang sesungguhnya. Malaikat mau dan tunduk, namun jin marah, tidak ikhlas dan membangkang untuk sujud. Jin merasa lebih senior dari Malaikat, apalagi Adam, tapi mengapa yang mendapatkan Nur Muhammad untuk menjadi Khalifah harus manusia. Dari sinilah kemudian Jin memiliki sifat yang diwujudkan dalam bentuk Setan dan Iblis (keduanya adalah sifat yang bisa lahir dari sisi manusia, malaikat dan jin yang penuh angkara murka). Jin (yang Iblis dan Setan) pun dilaknat oleh Allah subhanahuwata’ala, tapi meraka minta kesempatan untuk menyesatkan manusia dari petunjuk Tuhan (Nur Muhammad) hingga hari kiamat tiba. Dan permintaan itu pun dikabulkan oleh Tuhan.

Pada Nabi-Nabi selanjutnya, Nur Muhammad itu diwariskan secara turun-temurun hingga mencapai sosok Jasad yang bernama Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi penutup akhir zaman. Karena Nur itulah Muhammad menjadi Muhammad Rasulullah Shallalahu’alaihi wassalam, bukan lagi Muhammad bin Abdullah.

Peranan Nur Muhammad dalam kehidupan manusia adalah menunjukkan jalan Tuhan agar tidak mengikuti jalan Jin (yang Setan dan Iblis la’natullah).

Melalui jasad manusia yang menjadi Nabi maka manusia ditunjukkan untuk menyembah Tuhan dan cara mencapai kepada Tuhan, alias Surga. Para Nabi inilah yang memancarkan Ruhani (Nur) kepada Ruhani manusia lainnya agar mampu memposisikan diri sebagai hamba. Sebagaimana tugas manusia (dan jin) yang ditegaskan oleh al-Qur’an untuk mengabdi atau beribadah (hamba). Cara mengabdi kepada Tuhan tentun saja membutuhkan Ruhani Tuhan, dan itu ada dalam Ruhani para Nabi, tanpa itu tidak akan bisa dilakukan. Dengan Ruhani (Nur Muhammad) ini manusia menjalankan tugasnya sebagai khalifah dan sebagai hamba. Ia membangun kehidupan dan peradaban dalam upaya menggapaikan dirinya menuju kemuliaan bersama Tuhan kelak dikehidupan yang akan datang.

Inilah Agama, yakni Nur Muhammad yang dibawa oleh para Nabi hingga berada di tangan terakhir Rasulullah shallahu’alaihi wassalam. Dengan Agama (Nur) inilah manusia ditunjukkan jalan menuju Tuhan dan mengetahui jalan yang disesatkan Iblis dan Setan. Dengan kata lain, untuk bisa beragama dan memiliki Agama (alias beriman dan agar bisa bertaqwa) harus memiliki Nur Muhammad dalam qalbunya. Dan ini berlaku untuk semua Manusia dan Jin.

Dahulu (sebelum era Rasulullah shallahu’alaihi wassalam), proses ahli waris kenabian (Nur Muhammad) diberikan secara geografis dan budaya. Artinya, semua nabi sebelum Muhammad hanya bertugas membimbing pada masyarakat yang dihadapinya, atau kepada kaumnya saja. Misalnya, Nabi Musa dan Isa untuk bangsa Yahudi, Nabi Nuh untuk kaum Ad’, nabi Luth untuk kaum Sodom, dan seterusnya, bahkan bisa jadi Zoroaster adalah nabi untuk bangsa Persia dan Budha Gautama nabi untuk bangsa Cina (sayang sekali dalam al-Qur’an tidak ada informasi yang jelas mengenahi mereka).[5] Baru pada akhir zaman, Nur Muhammad hanya diberikan oleh satu Jasad dan untuk semua bangsa di dunia, yaitu Muhammad. Ingat, hanya Muhammad Rasulullah yang jelas-jelas memplokamirkan diri sebagai nabi untuk seluruh umat manusia dan di semua zaman. Dialah satu-satunya nabi universal untuk semua bangsa. Dengan demikian, hanya Islamlah yang layak dianggap sebagai agama dan dianut oleh semua bangsa.[6]

Dikatakan Islam sebagai agama, karena di dalam qalbunya tunduk kepada Nur Muhammad dan ahli waris yang menerima Nur itu (dari Nabi satu ke Nabi yang lain). Dan seorang Muslim adalah yang tunduk kepada pemilik Nur ketuhanan ini.

Sebagai Nabi, Rasulullah tidaklah meniru atau men-copypaste ajaran para nabi atau pemikir-pemikir sebelumnya. Beliau sosok yang ummi tidak tahu baca tulis dan bahkan tidak pernah punya guru yang mengajari pemikiran atau membaca kitab-kitab yang beredar waktu itu. Padahal di zaman Muhammad tumbuh menjadi anak dan remaja, beliau hidup dalam memuncaknya tradisi tulisan dan puisi lisan, buku-buku beredar luas dalam bentuk yang sederhana, tapi beliau tidak ada yang mengajari dan tidak pernah membaca sedikit pun.

Posisi beliau menjadi nabi merupakan “penerus, penyempurna, dan menutup” dari ajaran Tuhan dan pewaris cahaya Tuhan yang pernah dibawa oleh para nabi sebelumnya. Maka salah jika menyebut Rasulullah sebagai orang yang mengakomodir pemikiran sebelumnya sebagai agama yang “sempurna” atas idenya pribadi. Beliau, tidak punya ide dan tidak punya gagasan apa-apa dalam pikirannya. Dan saat menjadi nabi hanya malaikat jibril-lah yang mengarahkan dan memberikan Nur tersebut (yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk teks-teks al-Qur’an sesuai dengan konteks yang dihadapi umat Islam).

Inilah beragama itu, yakni mendapatkan Nur Muhammad dalam qalbunya atau ruhaninya. Sehingga secara ekstrim, jika “tidak salah” mungkin bisa dikatakan bahwa orang yang belum mendapatkan Nur Muhammad dalam Ruhaninya maka belum bisa dikatakan ber-Agama, apalagi beriman.

Dimanakah Agama (Nur Muhammad) itu sekarang?

Rasulullah bersabda “Ulama adalah pewaris para Nabi”. Disini ada pernyataan jelas dan tegas dari beliau bahwa yang menjadi pewaris para nabi adalah ulama.

Apa yang diwariskan para nabi kepada ulama’, apakah harta, kekuasaan, keturunan, pasukan, pengikut, atau bahkan pemikiran, dan ideologi? Jelas Tidak. Tidak ada nabi yang kaya raya kemudian menumpuk harta (pengecualian nabi Sulayman yang Raja, itupun hartanya dijarah oleh bangsa Yahudi), tidak ada nabi yang mewariskan pengikutnya kepada generasinya, dan tidak ada nabi yang meninggalkan tulisan atau pemikirannya dalam bentuk buku atau tulisan. Adanya kitab suci mereka karena adanya Nur yang bersemayam di dalam qalbunya itu, lalu menasehati manusia atas petunjuk Nur-nya itu dan sabdanya kemudian ditulis oleh generasi setelahnya. Lihat sejarah penulisan kitab suci pada semua agama, tidak ada yang ditulis langsung oleh para Nabi, mulai taurat hingga al-Qur’an.

“Ulama” yang dimaksud oleh Rasulullah sebagai “pewaris para nabi” tentu saja Ulama yang mewarisi keilmuan Rasulullah. Lalu apa ke-ilmuan-nya Rasulullah itu? Apakah ilmu Nahwu, Fisiki, Biologi, Bahasa Arab, teks al-Qur’an, teks Hadits, Tawhid atau ilmu Teknik? Tentu saja tidak. Keilmuan yang dimaksud adalah Nur Muhammad atau Nur Ketuhanan yang menjadikan Rasulullah sebagai Rasul yang bersemayan dalam ruhani beliau. Sebagaimana sabdanya beliau, “Ilmu adalah Nur (Cahaya)”. Dan cahaya disini adalah Nur ketuhanan itu yang akan membimbing ruhani manusia menuju kehadirat Tuhan.

Lalu siapakah “Ulama’” tersebut? Memang masa kenabian telah usai, yakni tidak ada nabi lagi kecuali Muhammad Rasulullah. Akan tetapi Ruhaninya tetap akan diwariskan kepada para Ulama yang pilihan dan terpilih. Para ulama inilah yang kemudian ditakdirkan oleh Allah sebagai Wali atau kekasih Tuhan. Pertama-tama diwariskan kepada Sayidinah Abu Bakar as-Shiddiq, lalu kepada Sayidinah Salman al-Farisi dan seterusnya kepada ahli waris yang dikenal sebagai ahli sufi atau waliyullah. Para sufi dan waliyullah ini merupakan ulama yang senantiasa menyebarkan agama (Nur) keseluruh dunia hingga bisa menyerap ke semua bangsa dan agama yang pernah tumbuh sebelumnya. Hal itu dikarenakan pada bangsa atau agama lama sudah ada keterangan (dari nabi-nya) yang menunjukkan akan adanya “penyempurna” dari agama sebelumnya, yakni agama Islam.[7]

Dengan demikian agama tetap ada dan diwariskan kepada para ulama pilihan yang didalam ruhaninya bersemayam Nur Muhammad dari para ahli waris hingga para nabi kekasih Allah. Jika kita ingin disebut sebagai orang yang memiliki agama, maka kita tidak bisa tidak untuk menemukan ulama pewaris Nur Muhammad ini, yang dalam al-Qur’an disebut sebagai Waliyan Mursyidah.[8]

Ahlussunnah waljama’ah dan Agama (Islam) adalah Satu

Ber-Agama adalah mendapatkan Nur Muhammad dalam qalbunya, sehingga jelas orang yang dianggap mengikuti para nabi adalah orang yang mendapatkan Nur Muhammad itu.

Ahlussunnah waljama’ah merupakan sebutan bagi orang yang mengikuti ajaran Rasulullah dan para Sahabat. “Ajaran” disini tentu saja sebagaimana kita diskusikan di atas bahwa ajaran Rasulullah adalah ilmunya Rasulullah yang diajarkan oleh para Sahabat. Dan ilmu itu adalah Nur Muhamad dalam bentuk Ruh yang ada dalam qalbu. Jika dikatakan sebagai golongan atau firqah maka golongan Ahlussunnah waljama’ah adalah golongan yang mendapatkan Nur Muhammad dan mewarisinya dari para Sahabat yang mewarisi dari Rasulullah.  Dan ini kongkret dalam bentuknya dan mutlak dalam pengajarannya, dalam arti tidak ada perubahan sejak nabi Adam hingga dewasa ini.

Dengan demikian menjadi golongan atau orang yang Ahlussunnah waljama’ah adalah orang yang ber-Agama Islam. Dan ber-Agama harus memiliki Nur Muhammad dalam Qalbunya yang turun temurun dari para Nabi sebelumnya. Ahlussunnah waljama’ah dan beragama adalah satu dalam kesatuan.

Nur Muhammad dalam diri manusia diwujudkan dalam praktik berupah menyebut asma Allah dalam Qalbu, atau berdzikir. Qalbu yang terpancar Nur Muhammad akan dengan mudah menyebut asma “Allah..Allah..Allah” baik dalam kondisi duduk, aktivitas, sholat dan bahkan dalam tidur. Orang yang memiliki Nur ini pada akhirnya akan menjadi orang yang ahli dzikir dan konsisten dalam ber-Tuhan.

Kita tentu tahu bahwa perintah sholat bagi Muslim itu datang setelah peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah. Pada masa sebelum itu yang dilakukan oleh Rasulullah tentunya saja tidak sholat, tapi berdzikir menyebut asma ALLAH dalam qalbu sambil duduk menyendiri di dalam gua. Hanya dengan berdzikirlah komunikasi dengan Tuhan bisa berjalan dan Ruh Tuhan bersemayan dalam diri Rasulullah. Dan cara yang ditempuh oleh Rasulullah ini juga diajarkan oleh para sahabatnya.

Kaum Ahlussunnah waljama’ah yang kaffah ini menyebarkan Islam dengan tetap konsisten pada Agama itu sendiri. Mereka tidak terpengaruh dengan kondisi politik atau kondisi pemerintahan Islam dimana Islam berkembang. Adanya pemerintahan Islam atau tidak ada bagi mereka sama, karena tanpa pemerintahan pun mereka bisa hidup damai dengan agama lain, dengan orang lain, dengan bangsa lain dan meresap bersama kebudayaan setempat. Tidak ada dalam sejarah Islam yang menjelaskan orang ahli dzikir, pewaris Nur Muhammad yang berperang atau menumpahkan darah demi suatu wilayah.[9] Disuatu wilayah yang damai mereka membentuk komunitas-komunitas tarekat yang ramah dan menyejukkan, sambil menyebarkan ajaran Islam yang berupa Nur tanpa harus dicampur adukkan dengan gagasan Rasionalisme Yunani dan pemikiran lainnya. Karena merekalah Islam berkembang dan menancap kuat di suatu negeri sebagai Agama, khususnya di negeri Nusantara.

Sejarah Islam Ahlussunnah waljama’ah Perspektif Agama

Memandang sejarah Peradaban Islam, khususnya sejarah ahlussunnah waljama’ah harus dimulai dari adanya Agama sebagai Nur, bukan suatu bentuk pemerintahan atau gerakan politik.

Pasca berlindunya Rasulullah kepemimpinan umat Islam sekaligus ahli waris Nur Muhammad diserahkan kepada Abu Bakar As-Shiddiq. Jadilah beliau ahli silsilah pertama. Dalam posisi ini Abu Bakar menjadi Khalifah yang meneruskan misi kenabian Rasulullah dalam bentuknya yang bukan Nabi dan Rasul, tapi khalifah Allah di muka bumi.

Abu Bakar tahu bahwa di masa depan kepemimpinan Islam harus dibedakan antara kepemimpinan Agama (Nur) dengan kepemimpinan Negara, karena Islam semakin luas dan menghadapi musuh yang semakin kuat, memiliki pasukan profesional, dan sistem pemerintahan yang matang. Oleh karena itu, menjelang wafatnya Abu Bakar menyerahkan kepemimpinan pemerintahan kepada Umar bin Khatthab, yang dianggap memiliki kapasitas sebagai sosok pemimpinan profesional dan mampu menghadapi dua kekuatan adi daya, Persia Sasania dan Romawi Byzantium. Pilihan Abu Bakar ini terbukti benar. Pada saat menjabat sebagai amirul mukminin Umar bin Khatthab mampu meruntuhkan kekaisaran Sasania di Persia dan mengebiri kebesaran kekasiaran Byzantium di Arab, Mesir dan Anatolia. Umar pun bisa menyusun kelembagaan pemerintahan secara profesional. Lembaga keuangan Negara, lembaga kepolisian dan lembaga sosial mulai didirikan. mata uang mulai diberlakukan. Pajak perlindungan ditetapkan. Dan tentara profesional mulai dirintis.

Adapun untuk kepemimpinan Agama (ahli waris Nur Muhammad) diserahkan kepada Salman al-Farisi. Salam merupakan orang non Arab yang dianggap sebagai ahlu bait Rasulullah, karena ia menerima kepemimpinan Agama (Nur).[10] Selama menanggung sebagai ahli waris silsilah keilmuan para Nabi ini Salman berada di Madinah untuk terus membina cara bertuhan umat Islam. Di Madinah, sebagai ibu kota Islam Salman menjaga konsistensi bertuhan dan menerapkan tradisi keagamaan secara kaffah dengan cara menjaga dzikir kaum Muslimin yang tinggal di masjid nabawi. Para ahli dzikir inilah yang menjaga Agama sesungguhnya dan pada gilirannya mereka dikenal sebagai ahlu shuffa, atau kaum sufi. Pada akhir hidupnya Salman wafat dalam kondisi kesederhanaan dan sangat tenang penuh senyuman.[11]

Setelah Salman al-Farisi kemudian ahli silsilah diteruskan oleh generasi selanjutnya hingga sampai ahli waris sekarang yang masih konsisten mengajarkan dzikr dengan metode yang sama persis dengan yang diajarkan jibril kepada Rasulullah. Ahli waris silsilah keilmuan ini membentuk sebuah komunitas tarekat yang sama sekali tidak terlibat dengan dunia politik.

Saat umat Islam bergejolak, para kaum sufi dan mayoritas umat Islam diam tidak ikut campur dan lebih memilih langkah menjalankan Agama secara konsisten, yakni berdzikir dan beribadah di hilqah dan masjid-masjid. Pada saat Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah terjadilah fitnah yang mengakibatkan umat Islam saling membunuh. Jumlah umat Islam yang terlibat ini tidak banyak, justru yang banyak itu mengambil langkah mengembangkan Islam dengan konsisten berdzikir dan membina umat. Diantaranya yang terkenal adalah Salman al-Farisi dan Abdullah bin Umar.

Pada masa fitnah tersebut Khalifah Ali bin Abi Thalib memindah ibu kota Islam dari Madinah ke Kuffah. Langkah ini ditempuh tidak hanya membangun pertahanan militer menghadapi kelompok Mu’awiyah dan Amr bin Ash yang ada di Damaskus, namun lebih pada menjaga kota Madinah agar tidak terseret pada konflik politik yang menjangkiti umat Islam. Ali tahu bahwa Madinah harus dijaga dan konsisten dirawat untuk membina beragama kaum Muslimin dan melanggengkan tradisi dzikir turun temurun. Semua persoalan khilafiyah dan politik umat Islam harus disingkirkan dari Madinah, sehingga kota tersebut terus menjadi kota yang bercahaya (Madinatul Munawwarah) karena dzikir terpancar terus dari Nur Muhammad (yang diamalkan oleh kaum Muslimin). Ketika sebagian kecil umat Islam yang berpolitik sibuk menghadapi urusan Negara, mayoritas umat Islam dan para kaum sufi yang tersebar luas di negeri Islam dengan berprofesi sebagai pekerja, ulama, ilmuwan dan pedagang memilih jalan hidup menjadi orang biasa yang terus berdzikir. Meraka terus membina ilmu Rasulullah itu dalam bentuk dzikir setiap hari.

Ketika Khalifah Ali wafat dan kepemimpinan dipegang oleh Mu’awiyah, mayoritas umat Islam justru semakin meninggalkan dunia politik dan memilih menekuni dzikir dan mengajarkan pengetahuan baru Islam (mulai dari nahwu, hadits, al-Qur’an, dan lain-lain). Apalagi saat pemerintahan dengan sistem demokrasi diubah menjadi Kerajaan ala bani Umayyah, justru umat Islam yang konsisten dalam beragama (Nur) menjauh dan memilih menyebarkan Islam dengan cara damai di pelosok negeri Islam lain. Pada saat itu jelas, bahwa umat Islam yang berpolitik itu jauh lebih sedikit dari pada yang tidak berpolitik. Para ulama yang ‘alim dan mengetahui ilmu Rasulullah (Nur dzikrullah) semakin menjauh dari kehidupan kota-kota metropolis Bani Umayyah, seperti Damaskus, Fustat, Kuffah, Basra, Aleppo, dan lain-lain.

Dengan jabatan pun kaum Muslim yang konsisten berdzikir banyak yang menolak. Banyak ulama yang menolak untuk diangkat sebagai Qadhi (waktu itu merupakan jabatan yang paling prestisius) oleh Khalifah (Kaisar) dan lebih memilih mengamalkan dzikir di surau-surau atau majelis dan mengajarkan pengetahuan kontemporer Islam. Bahkan diangkat sebagai kepala Madrasah, setingkat rektor di Universitas banyak yang menolak. Para ulama inilah yang merupakan pewaris para Nabi dan menjaga kemurnian ajaran ahlussunnah waljama’ah.

Perpindahan kekuasaan Islam atau kondisi politik Islam, dari dinasti Umayyah ke Daulah Abbasiyah, lalu terpecah-pecah menjadi dinasti-dinasti kecil, kemudian hingga lahirnya dinasti Fatimiyah, sampai munculnya masa tiga kerajaan (Kesultanan Ustmani-Turki, Kesultanan Mughal-India, dan Kesultanan Safawiyah-Persia) tidak mempengaruhi kehidupan para sufi dan mayoritas umat Islam yang memelihara tradisi berdzikir. Mereka terus mengajarkan dan mengamalkan dzikir, atau juga memilih jalan menyendiri dengan kecintaannya pada Allah. Kisah-kisah sufi seringkali terlupakan saat kita mendiskusikan politik Islam, padahal mereka jauh lebih banyak dari pada yang memegang kekuasaan dan sumberdaya alam negeri Islam.

Hingga saat ini pun kaum sufi yang terus memelihara ilmu murni dari Rasulullah berupa Nur Muhammad (Nur dzikrullah) tetap konsisten menjalankan ajaran tersebut yang tidak lain adalah ajaran ahlussunnah waljama’ah. Entah itu yang berkuasa Partai Islam atau Sekuler, Partai Demokrat atau Nasionalis, atau yang berkuasa itu pemerintahan model Monarcy atau demokrasi bagi kaum sufi tidak ada pengaruh apa-apa. Mereka senantiasa menjadi ahlussunnah waljama’ah dengan terus berdzikir dan memelihara dzikirnya kepada Allah.

Posisi al-Asy’ari, al-Maturidzi dan Ulama ahlussunnah waljama’ah lainnya

Pada saat Dawlah Abbasiyah ditangan al-Makmun berkuasa telah menetapkan Mu’tazilah sebagai ideologi Negara dan semua umat Islam wajib ikut. Para ilmuwan Muktazilah direkrut menjadi pegawai pemerintahan dan mengabdi untuk kekhalifahan. Para ulama yang bisa menjadi pegawi ini akan sangat kaya dan memiliki banyak properti di kota-kota metropolis. Biaya penelitian mereka dibiayai dan proyek penulisan buku membuat mereka kaya raya.

Pada awalnya paksaan itu berhasil, akan tetapi lambat laun juga akan muncul sosok yang menganggap salah ajaran tersebut. Sebelum kemunculan sosok yang akan menentang ajaran Muktazilah sebagai ideologi negara, umat Islam mayoritas (ahli dzikir) sudah tahu dan lebih banyak diam—dibiarkan saja sambil konsisten berdzikir. Sosok yang muncul itu adalah Abu Hasan al-Asy’ari yang ragu atas ajaran Wasil bin Atho’.

Abu Hasan al-Asy’ari kebetulan saja sosok ilmuwan yang menekuni bidang teologi dan Kalam di suatu kelompok ilmiah di Baghdad. Selain beliau yang tersebar diseluruh pelosok dunia Muslim juga banyak dan tidak berprofesi sebagai Ulama atau pegawai pemerintah, tentunya tidak ikut kelompok diskusi ilmiah. Pada posisi tersebut, beliau sangat berkesempatan untuk berargumen dan bersinggungan dengan para ilmuwan/ulama Mu’tazilah dengan menggunakan argumen-argumen yang rasional dan sesuai teks al-Qur’an. Saat beliau mendapatkan pencerahan dan mengetahui kesalahan sistem berpikir Muktazilah beberapa kitab langsung ditulis dan disebarkan serta diajarkan kepada murid-muridnya. Ketika tulisan beliau tersebar banyak ulama besar yang membenarkan dan mengakui bahwa yang sesuai dengan ajaran Rasulullah atau ahlussunnah waljama’ah adalah pemikiran al-Asy’ari.

Demikian pula dengan Ulama yang lain, semisal al-Ghazali atau al-Maturidzi. Mereka bersinggungan dengan dunia intelektual yang mengharuskan menulis dan membuat buku untuk mengahadapi dunia Rasionalis yang didukung oleh pemerintah.  Para Ulama ini kebetulan saja, ada waktu dan kondisi yang mengharuskan membuat karya lalu disebarkan guna menangkal pemikiran yang melenceng dari ajaran ahlussunnah waljama’ah. Para ulama di desa-desa dan di pojok-pojok kota di dalam Masjid masih banyak dan terus berdzikir dengan Nur Dzikrullah warisan Rasulullah.

Ketika Islam berkembang pesat dan peradaban Islam menjadi icon peradaban dunia berbagai bidang pengetahuan berkembang. Para khalifah Islam (dimulai di zaman Abbasiyah) mulai tertarik dengan warisan kejayaan Yunani dan Persia sehingga melibatkan para ahli di bekas dua kerajaan itu untuk bergabung dalam proyek penerjemahan dan membuat konsep keilmuan. Islam pun seolah pesat yang melambung tinggi menuju cakrawala dunia, kota-kota Islam menjadi gemerlap dan Indah, dan hidup kaum Muslim lebih dari kecukupan atau bahkan mewah.[12] Dalam keadaan yang melimpah ruah pengetahuan itulah berbagai pengetahuan Islam dikembangkan, mulai dari Fiqh, Aqidah, Tarikh, Hadits, Gramatika, dan lain-lain.

Saat kondisi dunia Islam mengembangkan pengetahuan itulah muncul berbagai perbedaan pendapat, terutama dalam bidang fiqh, Aqidah dan Etika/Akhlak/Tasawuf. Beberapa ulama ada yang mencampur adukkan pemikiran dari peradaban agama lain ke dalam pemikiran Islam, sehingga Islam semakin beragam dan semakin rancu. Perbedaan semakin melimpah ruah, hadist palsu bermunculan, dan saling klaim sebagai pewaris Rasulullah dalam beragama. Bahkan ajaran-ajaran Islam kemudian direduksi dalam kepentingan politik, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah dan Qaramithah. Munculah berbagai kelompok atau aliran Islam yang sejatinya keluar dari hakekat Islam sebagai Agama.

Dalam kondisi tersebut para ulama ahlussunnah waljama’ah kemudian berupaya menangkal gelombang itu (munculnya banyak aliran sempalan) dengan cara menulis dan membuat konsep tentang ajaran ahlussunnah waljama’ah dalam bentuk tulisan/kitab/buku. Para ulama ahlussunnah waljama’ah yang ahli dzikir Nur Muhammad berijtihad membuat konsep ilmu pengetahuan dari al-Qur’an dan hadits, terutama pengetahuan fiqh-syari’ah, Aqidah-Filsafat dan Ahklak Tasawuf. Dari sinilah lahir sosok al-Asy’ari dan Maturidzi sebagai ahli Aqidah; Imam Hanafi-Maliki-Syafi’i-Hanbali sebagai ahli Syari’ah; dan al-Ghazali, Junaidy al-Baghdadi, Abu Yazid al-Busthomi dan Ibnu ‘Arabi sebagai ahli Tasawuf. Kemunculan para ulama-penulis ini cukup membantu membentengi Islam dari pengaruh yang lain dengan argumennya yang rasional. Sehingga mengalahkan pemikiran “Islam” yang terpengaruh dengan ajaran dari non-Islam.

Sekalipun demikian, Ulama ahlussunnah waljama’ah lainnya yang menjadi guru besar tasawuf atau ahli ibadah (ahli dzikir) sangat melimpah dan tersebar luas. Adanya konsep dari ulama yang menulisnya atau tidak, Islam ahlussunnah waljama’ah sudah ada dan tetap akan ada dalam diri umat Islam. Kemunculan ahlussunnah waljama’ah sebagai aqidah (agama) mendahuli ahlussunnah waljama’ah sebagai ajaran atau sebagai firqah (kelompok). Adanya ahlussunnah waljama’ah sebagai firqah adalah untuk memperkuat jama’ah saja, agar tidak kalah dengan kelompok lain yang salah tapi terorganisir secara akademis dan organisatoris. Sehingga di Indonesia ahlussunnah waljama’ah sebagai firqah diwujudkan dalam bentuk Nahdlatul Ulama.

Nahdlatul Ulama bukanlah satu-satu firqah ahlussunnah waljama’ah di dunia, tapi salah satunya saja, yang berijtihad sebaik mungkin untuk menjadi benar-benar ahlussunnah waljama’ah.

Konsep ahlussunnah waljama’ah ala Nahdlatul Ulama

Menurut teori Pierre Bourdieu, Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari ahlussunnah waljama’ah merupakan agen yang memperjuangkan ajaran Islam ahlussunnah waljama’ah itu sendiri. Sebagai agen, Nahdlatul Ulama mempunyai peranan penting sebagai bagian dari masyarakat dan praktik sosial. Untuk itu Nahdlatul Ulama mempunyai konsep yang berdasarkan teks atau pendapat para Ulama pendahulunya untuk pijakan dalam mendefinisikan ajaran  ahlussunnah waljama’ah dan semua isinya. Pemikiran Nahdlatul Ulama dalam ahlussunnah waljama’ah didasarkan pada tiga bidang yang mana masing-masing mempunyai pemikir (Ulama)-nya.

Dlam bidang Aqidah-Filsafat mengikuti pendapat Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidzi.

Dalam bidang syari’ah atau fiqh mengikuti pendapat ulama madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali.

Dan dalam bidang Akhlak-Tasawuf mengikuti ajaran Imam Abu Hamid al-Ghazali, Imam Abu Yazid al-Busthomi dan Imam Junaidy al-Baghdadi.

Dalam praktik sosial Nahdlatul Ulama memperjuangkan konsep ahlussunnah waljama’ahI sebagai bagian dakwah Islamiyahnya. Bagi Nahdlatul Ulama, klaim ahlussunnah waljama’ah boleh dilakukan oleh siapa saja, akan tetapi Nahdlatul Ulama mempunyai konsep sendiri yang harus dilakukan dan dijalankan secara organisatoris.

Secara teoritis, konsep ahlussunnah waljama’ah yang dibangun oleh Nahdlatu Ulama memang sangat baik dan sangat terjaga. Cocok untuk diterapkan pada semua zaman dan semua tempat. Namun konsep ini masih dalam tahapan dhahiriyah saja, masih diluar diri dan belum masuk dalam tataran ruhani. Padahal, sebagaimana argument yang kami sampaikan di atas bahwa beragama harus mendapatkan Nur Muhammad atau Nur Dzikrullah yang mengharuskan umat Islam bisa masuk dalam sistem Tuhan.

Oleh karena itu, menjadi ahlussunnah waljama’ah belum cukup dengan menjadi anggota Nahdlatul Ulama dan belajar konsep ahlussunnah waljama’ah yang dikembangkannya, akan tetapi harus mencari Waliyan Mursyidah sebagai ahli waris silsilah keilmuan Rasulullah Shallahu’alaihi wassalam. Hanya dengan itulah kita bisa dikatakan ber-Agama, beriman dan tentunya golongan ahlussunnah waljama’ah secara kaffah.

Penutup

Dewasa ini kaum Zionisme dan Wahabisme sadar bahwa kekuatan umat Islam terletak pada ahli dzikir dan ahli sufi. Pada diri ahli dzikir inilah transmisi keilmuan kenabian Muhammad (Nur Muhammad) terjaga. Zionis dan Wahabi sebagai representasi dua kelompok penolakan terhadap keilmuan Islam tahu bahwa dengan menghabisi ahli dzikir Islam sebagai Agama (Nur) dengan sendirinya akan habis. Tidak salah jika kemudian pada awal abad 20 M. mereka mengusir kaum sufi dan para ulama ahlussunnah waljama’ah keluar dari tanah Arabia dengan cara disiksa atau bahkan dibunuh. Sehingga saat ini tanah Arabia menjadi tanah yang tidak lagi memiliki ahli dzikir dan menjadi tanah kaum Illuminati.

Hanya ada satu kata untuk tetap konsisten menjaga Islam sebagai agama, yaitu mencari Waliyan Mursyidah. Jika hal itu tidak bisa dilakukan maka Islam kelak hanya tinggal nama tanpa substansi. Islam bagai busa dalam air. Islam menjadi bonsai dan sampah peradaban yang hanya dinikmati secara dhahiriyah tanpa mendalami kedalaman makna. Wallahu’alam bishowaf.  

Daftar Pustaka

Anshari, Tamim. Dari Puncak Baghdad. Jakarta: Zaman. 2011.

Dunn, Ross E. Petualangan Ibnu Batutah. Jakarta: Pustaka Yayasan Obor Indonesia. 2011.

Fawzi Abd Mu’thi, Fathi.  Asbabun Nuzul Untuk Zaman Kita: Kisah Nyata Turunya Ayat-Ayat Suci al-Qur’an. Jakarta: Zaman. 2011.

Fuller, Graham E. Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam: Sebuah Narasi sejarah Alternatif. Bandung: Mizan. 2014.

Hofmann. Murad W. Bangkitnya Agama: Ber-Islam di alaf baru. Jakarta: Serambi. 2003.

Khalil, Khalil Muhammad. Riwayat Hidup 60 Sahabat. Semarang: Penerbit Diponegoro. 1993.

Syihabuddin, Muh. Konstruksi Pemikiran Islam Kontemporer. Tuban: Penerbit Kitasama. 2016.

Vidyarthi, Abdul Haq dan Dawud ‘Abdul Ahad. Ramalan tentang Muhammad dalam kitab suci Agama Zoroaster, Hindu, Buddha dan Kristen. Jogjakarta: NouraBook. 2013.

[1] Mengenahi konflik di Barat (Eropa) dan Agama Nasrani silahkan baca Graham E. Fuller dalam Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam? Sebuah Narasi Sejarah Alternatif terbitan Mizan Bandung 2014.

[2] Selengkapnya lihat tulisan penulis, Tafsir Sufi dan Hakekat Agama dalam antologi Konstruksi Pemikiran Islam Kontemporer yang diterbitkan oleh Pustaka Kitasama Surabaya 2016.

[3] Silahkan bukan dalil-dalil al-Qur’an maupun Hadits tidak ada yang menyatakan bahwa agama adalah kepercayaan. Justru dijelaskan bahwa Agama adalah Nur Muhammad yang turun langsung dari sisi Tuhan diberikan kepada para Nabi. Lihat surat An-Nur, Al-Baqarah, dst.

[4] Penjelasan ini bisa dilihat dalam kitab Dziba’ karang syech Majihuddin adz-Dziba’i.

[5] Selengkapnya lihat tulisan dan uraian penulis dalam buku Konstruksi Pemikiran Islam Kontemporer yang diterbitkan oleh Pustaka Kitasama Surabaya 2016.

[6] Diawal Islam lahir sebagai agama yang dibawa oleh Rasulullah tidaklah memiliki sebutan yang jelas, para pengikutnya hanya tunduk kepada Rasulullah saja. Karena ketundukkannya inilah mereka kemudian menyebut dan disebut sebagai Islam, yakni sebagai manusia yang tunduk kepada pemilik Nur Kenabian dari sisi Tuhan. Selengkapnya baca Bangkitnya Agama: Ber-Islam di Alaf Baru terbitan Serambi 2003.

[7] Lebih jelas silahkan baca tulisan Abdul Haq Vidyarti dan ‘Abdul Ahad Dawud dalam Ramalan tentang Muhammad Shallahu’alaihi salam dalam kitab Suci Agama Zoroaster, Hindu, Budha dan Kristen yang diterbitkan oleh Pustaka Noura Jogjakarta 2013. Mengenahi peranan para ahli sufi dalam menancapkan Islam diseluruh dunia silahkan baca Petualangan Ibnu Batutah yang ditulis oleh Ross E. Dunn terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia Jakarta 2011.

[8] Al-Qur’an Surat

[9] Berbeda dengan kondisi awal Islam yang memang harus berperang menaklukkan kekuasaan Byzantium dan Persia serta Kaum Riddah yang sangat mengancam eksistensi ber-Agama itu sendiri. Bukanya Islam yang memulai, tapi Islam ditakuti karena posisinya memang benar sebagai Agama terakhir untuk semua bangsa. Kafir Qurays Mekkah, Kisra Persia dan Kaisar Byzantium takut kehilangan legitimasi bahwa mereka adalah pilihan Dewa.

[10] Selengkapnya baca Fathi Fawzi Abd al-Mu’thi dalam Asbabun Nuzul untuk Zaman Kita yang diterbitkan oleh Penerbit Zaman Jakarta 2011, hal. 637.

[11] Lihat Khalil Muhammad Khalil dalam Kisah 60 Sahabat Rasulullah yang diterbitkan oleh Penerbit Diponegoro Semarang.

[12] Selengkapnya baca Tamim Anshari dalam Dari Puncak Baghdad terbitan penerbit Zaman Jakarta 2011.