Jakarta,
NU Online

Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) gelar program unggulan pertamanya angkat isu kekerasan seksual.

Kegiatan ini merupakan program kerja Departemen Pendidikan, Pengkaderan, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia bertajuk Focus Group Discussion (FGD) Pelajar Putri Bersuara yang mengangakat tema Penguatan Imunitas Pelajar dan Santri Putri dalam Menghadapi Kekerasan Seksual terhadap Perempuan.

Ketua Umum IPPNU Puti Hasni menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan ini akan dilakukan secara rutinan dalam setiap bulan untuk menanggapi isu-isu yang sedang berkembang dalam masyarakat.

“Kegiatan ini akan dilakukan secara istiqomah, sebagai bentuk kontribusi nyata IPPNU dalam menyumbangkan gagasan menghadapi permasalahan sosial dalam masyarakat”, kata Puti.

Ia menghimbau kepada seluruh pelajar dan santri Indonesia di semua lapisan untuk bahu membahu bersama melawan kekerasan seksual. “ Kita tidak perlu takut, kita galang kekuatan bersama”, tandasnya.

Dihadiri pula oleh Ketua PBNU Robikin Emhas yang memberikan sambutan dan arahan kepada seluruh peserta yang hadir.

“Semakin tingginya angka kekerasan seksual menunjukkan adanya kesalahan tatanan sosial dalam masyarakat, tentu saja karena nilai-nilai agama mulai tidak dipedulikan”, paparnya.

Komisioner Komnas Perempuan Riri Khariroh selaku narasumber memberikan berbagai materi dan menjelaskan kasus kekerasan seksual yang beragam dalam masyarakat.

“Tidak ada kekerasan seksual yang dianggap sebagai suatu kewajaran. Kita harus berani berkata No! Kekerasan seksual dapat terjadi di mana saja, baik itu ruang privat maupun ruang publik”, kata Riri di akhir sesi.

Kemudian inti dari FGD kali ini menghasilkan enam butir simpulan:

  1. Jangan berikan kesempatan pada pelaku kekerasan seksual terhadap perempuan dalam bentuk apapun. Baik itu kekeraan seksual, fisik dan psikologis.
  2. Mari meningkatkan kapasitas keilmuan baik kegamaan dan pengetahuan umum untuk proteksi diri dari kekerasan seksual.
  3. Paradigma berpikir harus diubah bahwa perempuan merupakan makhluk yang sama hak dan kewajibannya dengan laki-laki.
  4. Kampanyekan anti kekerasan seksual terhadap perempuan baik melalui kampanye nyata dan maya melalui optimalisasi pemanfaatan media.
  5. Jangan takut dan laporkan apabila mengalami pelecehan seksual.
  6. Mari bersama advokasikan kekuatan hukum untuk menolak kekerasan seksual terhadap perempuan.

(Afifah Marwa)