Jakarta, IPPNU.or.id

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP.IPPNU) menyelenggarakan aksi solidaritas untuk Yuyun dan Tahlil serentak mendoakan Yuyun. di Halaman Istana Negara Jakarta pada hari rabu (04/05).

Yuyun adalah seorang siswi Sekolah Menengah Pertama dari Bengkulu yang menjadi korban kekerasan seksual oleh 14 pemuda sampai akhirnya Yuyun meninggal dan ditemukan di dasar jurang. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama melakukan kegiatan aksi ini dalam rangka menuguhkan kembali peran IPPNU untuk melindungi rasa aman dan hak-hak pada perempuan (remaja dan pelajar).

Aksi ini diikuti oleh beberapa Organisasi atau Lembaga Perempuan yang ada diseluruh Indonesia. Di antaranya, PP IPPNU, Komnas Perlindungan Perempuan, dan organisasi-organisasi perempuan lainnya.

Puti Hasni selaku ketua PP. IPPNU memberikan pernyataan sikap bahwa IPPNU mendesak Aparat Penegak Hukum untuk segera memproses kasus perkosaan yang dialami oleh Yuyun di Bengkulu. Bukan hanya pelecehan seksual, tetapi itu juga sudah termasuk kejahatan kemanusiaan. Di samping itu, kami, IPPNU akan mendesak Lembaga Legislatif yaitu DPR RI untuk segera membahas dan mengesahkan RUU penghapusan kekerasan seksual pada pelajar dan perempuan.

“Stop kekerasan pada pelajar dan perempuan, remaja butuh keamanan dan hak-hak perempuan (remaja dan pelajar) cukup Yuyun, itu terakhir,” Jelas Puti.

Sementara Eva Rosdiana selaku Kordinator Lapangan (Korlap) mengatakan bahwa dengan adanya aksi ini, kami berharap pemerintah segera mungkin untuk memproses kasus Yuyun tersebut.

“Pelajar dan perempuan butuh rasa aman dari kejahatan kekerasan seksual,” Tandas Eva. (NJ)